Hak Perempuan yang Selalu Diperdebatkan

 


Yang Perlu untuk Diomongin

PRADNYA NADIA


 

Salah satu hal yang nggak aku suka ketika berkumpul dengan keluarga besar, or something like that, yang dimana kegiatan itu melibatkan banyak orang :

"Dek Nadia, kamu kok jerawatan sekarang?"

"Jerawatnya banyak banget, kamu punya pacar ya?"

Masih banyak contoh lain yang kalau disebutkan panjang kali lebar kali tinggi nggak akan ada habisnya. Setiap kali bertemu, selalu jerawat yang dipermasalahkan. Selalu fisik yang jadi bahan pembicaraan. Memangnya nggak ada topik lain selain fisik? Biasanya, kalau bukan wajah, yang dibahas berat badan, atau bahas tinggi. Nanyain kabar kek, nanyain sekolah, nanya lainnya. Terus, korelasinya apa coba punya jerawat dengan punya pacar? It doesn't make sense at all. Kulit orang kan berbeda-beda. Jerawat bisa karena hormon. Nggak ada hubungannya sama sedang naksir cowok, nggak bisa dikaitin dengan punya pacar. Sebagai yang mendengar pertanyaan itu, rasanya pengin bentak, tapi mulut kekunci nggak bisa ngomong apa-apa :")

"Makanya jangan suka megang-megang wajah."

"Jangan digaruk."

"Cuci muka yang bener."

Semua itu niatnya sebagai nasihat, tapi  justru terkesan menggurui. Beda lagi kasusnya, kalau kita sendiri yang meminta saran. Terkadang orang berbicara seolah-olah mereka yang paling tau kita. Paling tau usaha kita.

Sejauh ini, aku sering mendengar omongan-omongan yang menyudutkan perempuan. Entah karena penampilannya, pilihan hidupnya, atau beberapa frasa yang bermakna negatif untuk menilai perempuan. Contoh :

1. Cerewet

Hampir semua orang ketika mendengar kata 'cerewet', hal pertama yang ada di pikiran adalah mengasosiasikan kepada perempuan. Seringnya pikiran-pikiran tersebut terbentuk secara langsung dalam otak. Belum lagi dengan pelabelan sederhana 'cewek ngomel', 'istri cerewet' yang mengesankan kecerewetan merupakan sifat khas perempuan. Atau yang lain, 'gosip' misalnya. masyarakat sering mengidentikan  bahwa 'menggosip' merupakan kebiasaan perempuan.

2. Mulus, halus, lembut, kalem, seksi, dianggap sifat yang dimiliki perempuan. Nah, bagaimana bisa cara pandang seperti ini terbentuk? Cara pandang ini terbentuk karena relasi yang menjustifikasi perempuan.

"Cewek kok duduknya gitu?"

Hanya dari kalimat tersebut, kita bisa tahu bahwa sejak dulu banyak masyarakat yang mengarahkan perempuan untuk bersikap kalem. Sedangkan laki-laki diarahkan dan dididik untuk menjadi kuat perkasa. Keluarga mengarahkan laki-laki untuk bermain mobil-mobilan, robot, karena dianggap sesuatu yang lebih 'maco' dibanding boneka dan masak-masakan. Boneka dianggap sesuatu yang disegmentasikan untuk perempuan karena bersifat mengasuh. Mainan masak-masakan disegmentasikan sebagai kegiatan domestik sebagaimana kodrat perempuan. Awal pembentukan laki-laki yang diarahkan dan dituntut untuk menjadi kuat  dengan sifat maskulin sedangkan perempuan hanya bisa berpartisipasi di dalam rumah ini adalah sebuah tindakan yang turut melanggengkan budaya patriarki. Akhirnya, pola pikir seperti ini menuntun laki-laki untuk mempunyai hasrat atas otoritas terhadap perempuan, karena menganggap dirinya lebih kuat, lebih berhak dan lebih mampu dibanding perempuan. Dan tentunya hal ini ikut mempengaruhi pola pikir perempuan.

Paradigma ini tidak berubah. laki laki dijustifikasi untuk mencari nafkah, sedangkan perempuan ngurus anak, rumah, dan dapur. sadar nggak, sih? betapa seksisnya masyarakat Indonesia?

 

Selanjutnya, pengaruh konstruksi sosial di masyarakat.

1) Laki-laki dituntut nggak boleh nangis, karena katanya lemah kayak perempuan.

2) Perempuan yang bisa melakukan pekerjaan 'laki-laki' dianggap suatu prestasi yang hebat. Sedangkan laki-laki melakukan pekerjaan 'perempuan' dianggap suatu hal yang nggak pantas.

3) Gaji suami harus lebih banyak dari istrinya. Kalau si istri berpenghasilan lebih besar, biasanya dia akan dipaksa mengalah dengan dalih 'menghormati suami'.

4) Masih banyak masyarakat yang menyudutkan pilihan perempuan untuk berkarir dan melanjutkan pendidikan. 'Katanya', perempuan sebaiknya jangan sekolah tinggi-tinggi, karena nanti susah dapet jodoh, atau banyak yang nggak mau, 'katanya,' si laki bakal insecure kalau pasangannya lebih pintar dari dia. Laki-laki dituntut untuk lebih dan lebih dari perempuan karena dia akan mengemban amanah sebagai tulang punggung dan kepala keluarga.

5) Laki-laki yang mengerjakan pekerjaan rumah, masak, ngurus anak, masyarakat menganggap istrinya nggak becus karena nggak bisa ngurus pekerjaan rumah, sampai-sampai suaminya yang melakulan. Karena hal tersebut merupakan 'pekerjaan perempuan', yang nggak seharusnya dikerjakan laki-laki.

Tentunya, kedua pihak sangat dirugikan dengan adanya konstruksi sosial dan ungkapan seperti ini. Selain menghujani laki-laki dengan berbagai tuntutan, perempuan dianggap sebagai second gender yang derajatnya tidak boleh melebihi laki-laki.

Laki-laki dibebani tugas dan kewajiban mencari nafkah, memimpin rumah tangga, nggak boleh menunjukan emosinya secara berlebihan (menangis) karena laki-laki itu harus 'kuat', dibebani tanggung jawab yang besar sehingga menciptakan pola pikir kalau laki-laki berhak mengatur perempuan, karena laki-laki merasa ditekan sana-sini oleh masyarakat.

Sedangkan perempuan, banyak orang julid yang suka menilai dan mengatur segala macam penampilan perempuan, keputusan hidupnya ataupun fisiknya. Bertahun-tahun perempuan menganggap dirinya tidak punya pilihan dan merasa diri dia bukan miliknya sendiri. Masih banyak ketidakadilan yang dialami setiap harinya dari penilaian sosial. Perempuan sebaiknya nggak sekolah tinggi-tinggilah, karena kodratnya juga bakal ngurus rumah, kerja di dapur, dan ngurus anak. Padahal rumah dan anak itu, kan, tanggung jawab bersama. Milik bersama. Dan memasak bukanlah skill yang hanya ditujukan pada perempuan.

Perempuan yang sudah cukup umur, ditanya, “Kapan nikah?”

Perempuan yang sudah nikah, ditanya, “Kapan punya anak?”

Perempuan yang sudah memiliki 1 anak, ditanya, “Kapan nambah lagi?”

Seakan-akan siklus hidup cuman sekolah-nikah-punya anak.

Perempuan yang sudah berumah tangga, ditanya mau jadi wanita karir atau ibu rumah tangga. Pilihan hidup perempuan dibatasi oleh stigma yang terbentuk di masyarakat. Kalau perempuan memilih untuk berkarir, berbagai pertanyaan muncul lagi.

"Anak sama rumah yang ngurus siapa?"

"suami dikasih makan apa?"

Your internalized misogyny is showing :).

 

Kemudian, peran media dalam menilai perempuan.

Sebagai contoh, sering banget kan, iklan krim pemutih yang mengambil tokoh utama perempuan berkulit gelap yang nggak punya teman dan nggak ada satupun laki-laki yang melirik. Terus, datanglah si teman ngasih krim X ke tokoh utama dan boom! Dia jadi lebih putih, kulit bersinar, banyak laki-laki mendekat dan hidupnya jadi lebih berwarna. Ditambah lagi before-after. Sebelum pakai krim kulitnya sawo matang, setelah pakai krim, kulitnya jadi putih, deh. Seakan kulit putih itu ukuran cantik. Padahal mayoritas penduduk Indonesia berkulit sawo matang, tapi masih mendiskriminasi kulit gelap dan hanya mengakui kulit terang. Masih sedikit produk yang berani memakai kulit gelap dalam iklannya

Contoh lain, iklan parfum misalnya. Tokoh utama perempuan awalnya minder dengan bau badan mereka. Lalu, datang tokoh pendukung yang memberikan parfum. Seketika hidup dia berubah, diikutin banyak cowok karena baunya memikat. Kesannya perempuan sebagai penggoda dan laki-lakinya digambarkan lemah iman banget.

Iiklan dengan premis seperti ini menggambarkan seolah-olah kebahagiaan perempuan tergantung pada laki-laki dan validasi masyarakat. Mereka bagaikan penentu utama dari kepuasan fisik perempuan. Jadi kalau masyarakat punya beauty standard, kita sebagai perempuan harus mengikutinya supaya diakui dan menjadi lebih 'bahagia'. Beauty standard bahwa perempuan itu harus berkulit putih, mulus, nggak jerawatan, mancung, nggak punya kantung mata. Padahal sebenarnya beauty standard itu nggak ada dan mereka nggak tau seberapa sulitnya menerima diri sendiri dengan banyak kekurangan. Mereka nggak tau seberapa besar usaha yang sudah dilakukan untuk bisa mencapai standard yang dibuat masyarakat. Pujian lawan jenis berdasarkan fisik ini yang membentuk pola pikir patriarki. Berapa banyak perempuan diluar sana yang merasa tidak berharga karena tidak dapat memenuhi standard masyarakat. Entah berapa banyak, perempuan yang terpengaruh pola pikir patriarki dan menginternalisasi narasi ini, kemudian ikut merendahkan perempuan lain. Stigma yang ada di masyarakat ini membuat perempuan mau tidak mau harus berusaha dua kali lipat supaya masyarakat menganggap perempuan 'mampu' melakukan pekerjaan laki-laki. Contohnya, perempuan harus membuktikan lebih bahwa dirinya mampu menjadi pemimpin hanya karena masyarakat percaya "Perempuan itu kalo mikir pake hati, nggak pake logika."

"Perempuan yang udah punya anak nggak bisa memegang posisi penting dalam perusahaan, soalnya mereka bakal fokus sama keluarga".

Memang apa salahnya jika perempuan menjadi pemimpin? Apa salahnya menjadi perempuan yang kuat? Apa salahnya menjadi perempuan yang cerdas?

 

Selamat memperingati Hari Anti Kekerasan Terhadap Perempuan! :D

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Catcalling