Catcalling
Hai
Cewek! Liat Sini, Dong!
PRADNYA
NADIA
Makin kesini, aku
merasakan makin banyak objektifikasi terhadap perempuan. Dari yang sekedar
dikomen cowok di sosial media "cantik deh", "kamu manis banget
sih", "lagi ngeliatin jodoh", "cantiknya kayak bidadari",
"mau nggak jadi pacarku?", "nikah yuk", "taarufan
yuk", bahkan lagi jalanpun dikomentarin. Ini biasa disebut catcalling atau street harassment.
Catcalling ini bentuknya macam-macam. Mulai dari whistle, ngomentarin penampilan perempuan, perilaku sok-sok-an baik, ngucapin salam dengan dalih 'ramah' padahal nggak kenal, atau leering yang berarti melihat dengan cara tidak menyenangkan, nakal, merendahkan, dan mesum. Kalau hanya sekilas melihat, mungkin nggak masuk ke pelecehan. Tapi kalo ngelihatnya sampe memalingkan kepala, kadang badan ikutan, lalu menatap selama beberapa detik dengan tatapan yang membuat orang nggak nyaman, itu bisa jadi pelecehan. Hal ini merupakan awal mula normalisasi bentuk pelecehan secara verbal.
Sebenernya ini adalah
masalah yang sangat penting. Namun, banyak masyarakat yang masih menganggap
remeh, belum menyadari, dan nggak aware
sama isu ini. Seolah wajar kalau perempuan dapat perlakuan seperti ini dan
harus memaklumi.
"Ya, dia kan
cowok."
"Biasalah, cowok
emang gitu"
Menjadi laki-laki
bukan berarti membenarkan apa yang telah mereka lakuin. Aku nggak merasa, hanya
karena mereka laki-laki, mereka berhak ngomentarin dan ngelakuin hal itu seenaknya.
Masih banyak kok, laki-laki yang punya tata krama, laki-laki yang menghormati
harga diri perempuan, laki laki yang punya sopan santun. Ini udah masuk masalah
dimana beberapa laki-laki nggak tau cara menghargai perempuan. Seolah-olah
keberadaan perempuan tergantung dari sudut pandang laki-laki. Masyarakat
cenderung melihat dan menilai penampilan perempuan serta mengesampingkan
kecerdasan mereka, bakat mereka, akhlak, pemikiran, maupun kepribadian. Calogero
pernah menyatakan, bahwa perempuan dianggap sebagai objek di masyarakat karena
bentuk tubuhnya yang unik. Seakan akan, perempuan tuh, cuma sekedar muka, badan
baguslah, dan wajah menarik. Beberapa gambaran tadi, merupakan penurunan harkat
tubuh perempuan dengan menjadikan mereka sebagai objek semata.
Karena topik ini nggak dibicarakan banyak orang, beberapa orang jadi berpikir kalau ini cuma sekedar bercandaan dan bukan hal yang harus dipermasalahkan. Apalagi bagi kebanyakan masyarakat Indonesia, isu seperti ini bukanlah hal yang penting untuk dibahas. Sebagian orang menganggap catcalling adalah bentuk pujian karena kita "menarik" katanya. Nope! Sesuatu yang berbau seksual bukanlah pujian. Nggak semua orang suka digenitin, digodain, dan dikomentarin. Catcalling ini perbuatan yang mengganggu kenyamanan & keamanan, bentuk kekerasan secara aksi, serta bentuk perilaku tidak hormat kepada perempuan. Sayangnya, banyak orang yang belum menyadari disebabkan kurangnya edukasi tentang pelecehan seksual dan belum ada hukum yang mengatur.
Dalam hal ini, seringkali perempuan yang disalahkan. Parahnya,
sesama perempuan juga saling menyalahkan.
"Salah sendiri
nggak berhijab."
"Makanya, pake
baju yang tertutup."
"Pantes aja digituin,
orang dia pulang malem.”
Cuy, aku sebagai
perempuan yang berhijab, pakaian tertutup, masih dapet perlakuan kayak gini. Bahkan
ketika pake masker kalo keluar dimana cuma mata yang keliatan, ada aja laki-laki
yang ngeliatin kayak apaan tau, sampe aku turun dari bis masih diliatin. Aku
nggak merasa aku genit. Aku nggak berniat menggoda ataupun caper ke laki-laki
di jalan, laki-laki yang lagi nongkrong, kuli bangunan, siapapun itu, nggak
pernah berharap dapet pujian dari mereka.
"Assalamualaikum.."
"Judes amat, nggak
jawab dosa lo."
Apa hanya karena
berhijab dipikirnya orang bisa pake kalimat-kalimat agama? Paham bahwa
perempuan berhak menerima perlakuan tertentu dari cara berpakaian mereka adalah
bagian dari rape culture. No matter what
they choose to wear, they're not asking to be raped.
Banyak banget contoh
catcall, mulai yang dari,
"Kasian deh jalan
sendirian, aku anter yok"
"Ciuit, cewek,
mau kemana? kok pulang malem?"
"Yahh, tadi
kesandung ya mbak?"
"Assalamualaikum..."
"Namanya
siapa?"
"Hai cantik,
habis darimana?"
"Mbak Mbak,...
mbak(so) bulat seperti bola pingpong" (ini yang sering dilakuin bocil di
sekitar rumah).
Anak SD aja berani ngelakuin
kayak gini, tetangga sendiri kadang suka manggil manggil genit, padahal udah
berusaha jalan maco dengan masang muka judes, itupun justru membuat mereka
semakin semangat ngegodain. Perempuan yang lagi jalan di gang atau tempat rame
dengan muka cemberut, diminta senyum. Seolah-olah tugas perempuan itu harus
selalu terlihat cantik supaya bisa menghibur laki-laki. Nyuruh perempuan untuk
senyum, ini memperlihatkan power yang
laki-laki punya terhadap perempuan dan berlagak kalau mereka tau perasaan kita.
Ntar nih, kalau lapor dibilang baperan. Waktu curhat, ditanya pakaian segala
macem. Ngelawan balik, diketawain. Nanggepin dengan perasaan nggak nyaman
kepada pelaku dikatain Islam KTP lah, Islam syiah lah, ini yang sering
diungkapin laki-laki yang sok menasehati perempuan untuk berhijab padahal emang
nafsunya yang nggak bisa dikontrol. Pokoknya perempuan jadi serba salah. Statement
"cewek selalu benar" itu salah, yang ada apa-apa justru disalahin. Mengapa
selalu perempuan yang menjadi objek kekerasan seksual? Mengapa laki-laki jarang
mendapat catcall? Kenapa kasus ini
sangat memperlihatkan ketimpangan gender? Kenapa perempuan harus selalu
merasakan ketidaknyamanan berada di lingkungannya sendiri? Mengapa perempuan
tidak mempunyai cukup ruang kebebasan?
Faktanya,
objektifikasi terhadap perempuan ini cenderung dilakukan oleh kelompok orang
yang tidak mengenal pribadi yang dilecehkannya. Tindakan ini menghambat dan
mempengaruhi perempuan untuk berpartisipasi dalam ranah publik. Perempuan jadi
merasa nggak nyaman jalan sendirian, jalan melewati segerombolan anak laki-laki
yang sering menunjukan betapa superiornya mereka, nggak nyaman berada di tempat
rame, tempat yang terlalu sepi, masih banyak batasan-batasan yang mengekang
perempuan untuk bebas beraktifitas.
Siapapun itu, laki-laki atau perempuan yang ngelakuin harassment, mereka tetap pelaku. Hanya karena kebanyakan korban diam dan nggak melawan, bukan berarti menjadikan pelaku semakin seenaknya melakukan tindakan yang tidak mendapat persetujuan. Laki-laki juga bisa jadi korban, walaupun angkanya kecil, kasus ini nyata adanya. Buat siapapun yang baca ini dan pernah ngelakuin, tolong berhenti. Kita semua manusia. Manusiakanlah manusia dan perlakukan seperti apa kalian ingin diperlakukan.
Asekk ah,semangatt
BalasHapusbagus nat sangat menginspirasi. Cocok dibaca utk sluruh kaum adam. semangat berkarya nat๐ง❤✨
BalasHapusOMG akhirnya, thanks udah nulis cerita ini dari sudut pandangmu yg kece, love your work so much, wishing this blog will grow bigger mun ๐✨
BalasHapus๐ฅฐ๐ฅฐ๐ฅฐ๐ฅฐ
BalasHapusKeren bgt nadddd suka ๐ค, semangat terus nulisnyaaa
BalasHapusSemangatt Nadiaaaa ๐๐๐คฉ๐คฉ๐๐
BalasHapusGoodluckkkkk๐
BalasHapusGoodluckkkkk๐
BalasHapusCemungud Nad, keren artikelnya
BalasHapusGood luck nadiaa,, kembangin lagi bakaynya yakk mweh3he,, cerita nya bagus๐๐๐
BalasHapussemangatt cuyy!๐ค
BalasHapusWah mantap Nad... topik yang sekarang perluu bangettt dibahas nii. Semangatt terus yaww, keren dah artikelnya xixixi
BalasHapusKeren banget ๐ฅฐ๐ฅฐ๐๐
BalasHapusKereenn kak, topik nya bagus dan bermanfaat ๐
BalasHapusWah mantap! Bener banget, aku jg sebagai perempuan kadang diperlakukan kyk gitu. Sedih dengernya kalau hal semacam ini masih dianggap sesuatu yang biasa di masyarakat.
BalasHapusSuka sm topik yg dibahas disini, keep spirit nad๐ฅ๐ฅ
keren banget artikelnya, semangat nadiong!!! kutunggu karyamu yg selanjutnya ๐ป๐
BalasHapusmasya Allah kerenn, semangatt๐ฅ❤️
BalasHapusYep! Stop normalize catcalling y'all. Sekecil apapun bentuknya, itu tetep pelecehan namanya
BalasHapusaduuhh, dedek aku berbakat banget bikin beginian, sejak kapan :'v
BalasHapusbagus banget dek, aku suka blog buatanmu ini, semoga bermanfaat buat semua orang yang membaca
semangat dek ๐๐๐